Bogor.LenssWarna.com – Perjalanan panjang band Billkiss tidak hanya dituangkan melalui karya musik. Bassist sekaligus songwriter Helvi Eriyanti kini mengabadikan perjalanan grup tersebut dalam sebuah buku berjudul “BILLKISS: Cerita #1 — Dari Nol Sampai Bunyi”.
Buku yang diterbitkan oleh H.Y.D.R.A. ini mulai memasuki masa pre-order pada 10 Agustus 2026. Memiliki 102 halaman, buku tersebut ditawarkan dengan harga Rp70.000.

“Cerita #1 — Dari Nol Sampai Bunyi” merekam perjalanan Billkiss sejak awal berdiri dengan nama Bilqis hingga melewati berbagai fase dalam perjalanan bermusik mereka. Mulai dari pergantian personel, proses produksi karya, pandemi, kehilangan, berbagai tantangan, hingga lahirnya album perdana Cerita #1.
Bagi Helvi, buku tersebut pada awalnya dibuat sebagai bentuk dokumentasi perjalanan band.
Namun setelah seluruh proses penulisan selesai, ia menyadari bahwa perjalanan Billkiss menyimpan banyak pengalaman yang dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain.
“Awalnya aku menulis buku ini untuk dokumentasi perjalanan Billkiss. Setelah bukunya selesai, aku baru sadar ternyata perjalanan Billkiss sudah sejauh ini dan banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa dipetik, tidak hanya untuk aku, tapi bagi siapa pun yang membaca buku ini,” ujar Helvi.
Bukan Hanya Tentang Musik
Helvi menjelaskan, judul “Dari Nol Sampai Bunyi” menggambarkan perjalanan Billkiss sejak belum memiliki karya hingga akhirnya mampu menghasilkan sebuah album.
Perjalanan tersebut tidak hanya berkutat pada musik, proses
latihan maupun penampilan di atas panggung. Buku ini juga membuka cerita mengenai berbagai dinamika yang terjadi di balik layar.
Mulai dari keterbatasan, perdebatan, pergantian personel, rasa lelah, keraguan, kehilangan hingga keputusan untuk terus melangkah menjadi bagian dari cerita yang diangkat dalam buku tersebut.
Pihak H.Y.D.R.A. menilai sisi di balik layar inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama buku “BILLKISS: Cerita #1”.
Menurut penerbit, buku tersebut tidak sekadar berbicara tentang musik, lagu, panggung maupun pencapaian sebuah band, tetapi mengajak pembaca melihat proses panjang yang kerap tidak terlihat oleh publik.
Karena itu, buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi penggemar Billkiss atau kalangan musisi. Cerita di dalamnya juga diharapkan dapat menjangkau masyarakat umum yang sedang membangun sesuatu, mengejar cita-cita, berkarya atau menghadapi masa ketika perjuangan belum menghasilkan sesuatu yang terlihat.
Perubahan Personel dan Tantangan Menuju Jakarta Fair
Salah satu bagian perjalanan Billkiss yang cukup membekas bagi Helvi adalah ketika terjadi perubahan personel.
Pada 2025, gitaris Billkiss, Qpot, memutuskan untuk meninggalkan band hanya beberapa hari sebelum mereka tampil di panggung utama Jakarta Fair 2025.
Bagi Helvi, perubahan personel merupakan bagian dari dinamika sebuah perjalanan.
“People come and go itu wajar, dan enggak apa-apa banget, selama kita tetap bisa fokus sama tujuan awal,” kata Helvi.
Setelah perjalanan Billkiss kemudian dilanjutkan bersama Maulin, Helvi justru merasakan proses berkarya menjadi lebih sederhana dan ringan.
Ia mengaku tetap berpegang pada tujuan awalnya, yakni membawa Billkiss memiliki sebuah album.
“Aku ingat tujuan awalku, aku ingin Billkiss punya album. Jujur, ternyata setelah jalan hanya berdua, jalan Billkiss malah makin ringan,” ungkapnya.
Perjalanan tersebut akhirnya membawa Billkiss menyelesaikan album pertama Cerita #1, yang menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan mereka.
Helvi Perluas Perjalanan Berkarya Lewat Literasi
Penerbitan “BILLKISS: Cerita #1 — Dari Nol Sampai Bunyi” sekaligus menjadi langkah baru bagi Helvi Eriyanti untuk memperluas ruang berkarya.
Selama ini dikenal sebagai musisi, bassist dan songwriter, Helvi mulai menjadikan tulisan sebagai medium lain untuk menyampaikan pengalaman serta gagasan kepada masyarakat.
“Aku ingin berkontribusi di dunia literasi. Selama ini aku berkarya lewat musik dan menulis lagu. Sekarang aku mencoba menyampaikan cerita melalui buku.
Aku ingin karya yang aku buat tidak hanya didengar, tetapi juga dibaca dan bisa memberikan sesuatu untuk orang lain,” tuturnya.
Menurut Helvi, musik dan literasi memiliki kesamaan karena keduanya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan cerita, pengalaman dan pesan kepada orang lain.
Melalui buku ini, ia berharap dokumentasi perjalanan Billkiss dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas dan memberikan inspirasi kepada pembacanya.
Mengajak Pembaca Menemukan “Billkiss” Mereka Sendiri
Helvi juga berharap kisah perjalanan Billkiss dapat membuat pembaca menemukan pengalaman mereka sendiri di dalam buku tersebut.
Baginya, perjalanan mengejar sesuatu tidak selalu berjalan mulus. Ada kemungkinan seseorang mengalami kegagalan, kehilangan arah maupun merasa lelah. Namun, yang terpenting adalah keberanian untuk kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan.
“Jatuh boleh, tapi abis itu bangkit lagi, jalan lagi, nulis lagu lagi, rilis lagi,” ujar Helvi.
Ia meyakini proses panjang tidak selalu berarti perjuangan yang sia-sia.
Selama seseorang terus bergerak dan tidak berhenti mengejar tujuan, akan selalu ada kesempatan untuk sampai pada titik yang diinginkan.
“Kalau kamu terus berjalan, kamu akan sampai ke tujuan kamu. Buktinya ini, kamu sampai kan? Kamu bunyi kan? Keren,” lanjutnya.
H.Y.D.R.A. juga berharap buku tersebut dapat memberikan perspektif baru kepada pembaca mengenai proses panjang di balik sebuah karya musik.
Pasalnya, banyak hal yang terjadi sebelum sebuah lagu akhirnya terdengar oleh publik. Di baliknya terdapat latihan, kegagalan, kehilangan, kelelahan, keputusan sulit hingga keberanian untuk kembali memulai.
Cerita Billkiss Belum Berakhir
“BILLKISS: Cerita #1 — Dari Nol Sampai Bunyi” menjadi bagian pertama dari kisah perjalanan Billkiss yang hingga kini masih terus berlanjut.
Setelah menghadirkan buku pertama dan album Cerita #1, Helvi bersama Billkiss telah menyiapkan sejumlah karya berikutnya, termasuk rencana album kedua, buku kedua serta berbagai karya baru.
Dengan demikian, “Dari Nol Sampai Bunyi” bukan menjadi akhir dari perjalanan Billkiss. Sebaliknya, buku tersebut menjadi penanda bahwa sebuah perjalanan yang dimulai dari nol dapat terus berkembang selama para pelakunya tetap memilih untuk berjalan dan berkarya.
Red Shaff)***


