Yogyakarta, LensaWarna.com– Perayaan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata Yogyakarta berlangsung semarak dengan rangkaian pertunjukan seni dan budaya.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian dalam Malam Anugerah Kebudayaan “Satkara Ratri” adalah ketoprak humor yang dikonsep oleh Dr. Rizal Djibran.
Malam puncak perayaan setengah abad Ramayana Ballet Purawisata digelar di Gazebo Garden Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta, baru-baru ini.
Mengangkat tema “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang Ramayana Ballet Purawisata dalam menjaga eksistensi seni pertunjukan dan budaya di Yogyakarta.
Di antara berbagai pertunjukan dan agenda penghargaan, ketoprak humor menjadi salah satu segmen hiburan yang memberikan nuansa berbeda. Pertunjukan tersebut melibatkan Rizal Djibran, Paramitha Rusady, serta sejumlah aktor teater lainnya.
Konsep Padat, Tetap Menghibur
Meski disajikan dalam durasi yang relaif singkat, pertunjukan ketoprak humor tersebut tetap dikemas dengan alur yang jelas dan ritme permainan yang diamis.
Keterbatasan waktu persiapan juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain dan konseptor.
Struktur cerita harus dibuat lebih padat, sementara interaksi antarpemain dan momentum komedi perlu ditempatkan secara tepat.
Rizal Djibran tidak hanya tampil sebagai pemain. Ia turut berperan dalam menyusun konsep pertunjukan agar dapat menyesuaikan dengan rangkaian acara secara keseluruhan.
Dengan pendekatan tersebut, ketoprak humor tidak sekadar menjadi hiburan tambahan, tetapi berfungsi sebagai intermezzo yang memberikan jeda sekaligus menjaga perhatian penonton di tengah rangkaian acara budaya.
Rizal Djibran Beradu Peran dengan Paramitha Rusady
Salah satu daya tarik pertunjukan tersebut adalah kolaborasi Rizal Djibran dengan aktris senior Paramitha Rusady.
Keduanya membangun interaksi melalui dialog, ekspresi, spontanitas, serta permainan karakter yang menjadi elemen penting dalam menciptakan suasana komedi.
Kehadiran Paramitha yang memiliki pengalaman panjang di dunia seni peran memberikan warna tersendiri dalam pertunjukan.
Sementara itu, Rizal mampu memadukan kapasitasnya sebagai pemain sekaligus konseptor.
Meskipun waktu tampil terbatas, dinamika antarpemain membuat segmen tersebut tetap terasa hidup di hadapan penonton.
Dalam pertunjukan komedi, durasi bukan satu-satunya ukuran. Ketepatan dialog, timing, karakter, serta kemampuan membaca respons penonton menjadi faktor penting dalam membangun sebuah pertunjukan.
Pengalaman Rizal di Dunia Seni dan Perfilman
Keterlibatan Rizal Djibran dalam pertunjukan tersebut juga berkaitan dengan kiprahnya di bidang seni dan perfilman.
Rizal dikenal sebagai pendiri Lembaga Penelitian Pengembangan Perfilman (LP3), pendiri Yayasan Budaya Indonesia Emas (YBIE), salah satu penggagas sekaligus perancang Blue Print
Ekosistem Perfilman, serta pendiri dan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI).
Pengalaman tersebut turut memengaruhi cara Rizal dalam melihat sebuah produksi pertunjukan.
Baginya, keberhasilan sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh pemain, tetapi juga oleh kemampuan menyatukan konsep, karakter, waktu, ruang dan kebutuhan sebuah acara.
Dalam kondisi persiapan yang terbatas, setiap elemen harus dimanfaatkan secara maksimal.
Adegan perlu dipadatkan, karakter diperkuat, sementara momen humor harus ditempatkan pada bagian yang tepat.
Durasi Singkat Bukan Berarti Minim Konsep
Dalam produksi seni pertunjukan, durasi kerap menjadi salah satu pertimbangan. Namun, panjang atau pendeknya sebuah pertunjukan tidak selalu menjadi penentu utama keberhasilan artistik.
Sebuah segmen justru dapat dinilai dari seberapa efektif pertunjukan tersebut menjalankan perannya dalam keseluruhan acara.
Dalam perayaan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata, ketoprak humor hadir sebagai warna berbeda di antara rangkaian seni budaya dan Malam Anugerah Kebudayaan “Satkara Ratri”.
Konsep yang dibuat padat memungkinkan pertunjukan menyesuaikan dengan waktu yang tersedia tanpa menghilangkan unsur hiburan dan komunikasi dengan penonton.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi konseptor maupun pemain untuk mampu menghasilkan pertunjukan yang efektif dalam waktu terbatas.
Panggung Menjadi Penentu
Pada akhirnya, sebuah konsep pertunjukan akan mendapatkan penilaian sebenarnya ketika berada di hadapan penonton.
Lampu panggung, dialog, ekspresi aktor, tempo komedi hingga respons penonton menjadi bagian yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi melalui proses persiapan.
Ketoprak humor yang tampil dalam perayaan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata menunjukkan bahwa sebuah pertunjukan dengan durasi terbatas tetap dapat memiliki alur, karakter, ritme dan fungsi yang jelas dalam sebuah acara besar.
Bagi Rizal Djibran, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa seni pertunjukan bukan semata-mata tentang berapa lama seorang pemain berada di atas panggung.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana sebuah gagasan dapat diterjemahkan menjadi karya yang mampu berkomunikasi dengan penonton sekaligus menyatu dengan kebutuhan acara.
Perayaan setengah abad Ramayana Ballet Purawisata pun menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas dan berbagai bentuk ekspresi seni. Kehadiran ketoprak humor menjadi salah satu warna yang melengkapi perjalanan panjang perayaan budaya tersebut.
Red Dons)***


