Jakarta Selatan, LensaWarna.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menghadiri kegiatan tradisi ngaduk dodol Betawi di rumah produksi Dodol Nyak Mai yang berlokasi di Jalan Moch Kahfi II, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6/3).
Kehadirannya bertujuan melihat langsung proses pembuatan dodol tradisional sekaligus memberi dukungan terhadap pelestarian kuliner khas Betawi.

Dalam kegiatan tersebut, Pramono tidak hanya menyaksikan proses memasak, tetapi juga turut mengaduk dodol bersama para perajin.
Ia didampingi tokoh Betawi sekaligus mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo yang akrab disapa Bang Foke.
Menurut Pramono, pengalaman mengaduk dodol secara langsung memberikan gambaran bahwa proses pembuatan makanan tradisional itu membutuhkan tenaga, kesabaran, serta kebersamaan.

Ia menilai tradisi tersebut mencerminkan nilai gotong royong yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat Betawi.
“Baru saja saya ikut mengaduk dodol dan ternyata tidak mudah. Prosesnya cukup berat dan panjang. Bagi masyarakat Betawi, kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan,” ujar Pramono.
Dodol Betawi dibuat melalui proses yang cukup lama, yakni sekitar delapan hingga sepuluh jam.
Bahan-bahan seperti tepung ketan, gula merah, santan kelapa, dan sedikit garam dimasak dalam kuali besar menggunakan api kayu hingga menghasilkan tekstur kenyal dengan rasa manis khas.
Usaha Dodol Nyak Mai sendiri merupakan bisnis keluarga yang sudah berjalan sejak awal 1990-an.
Usaha tersebut pertama kali dirintis oleh Nyak Mai dan kini diteruskan oleh generasi berikutnya, yakni Mpok Djuanih dan Bang Udin. Lokasinya berada di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Betawi di Jakarta.
Pramono mengaku sudah pernah mencicipi dodol produksi tempat tersebut dan menilai rasanya khas serta berkualitas.
Menurutnya, kuliner tradisional seperti ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjutnya, akan memberikan perhatian terhadap pengembangan usaha kuliner tradisional, termasuk kemungkinan dukungan peralatan produksi yang lebih modern tanpa menghilangkan proses tradisional yang menjadi ciri khasnya.
Ia juga mendorong agar produk kuliner Betawi memiliki kemasan yang lebih menarik sehingga bisa menjadi oleh-oleh khas bagi wisatawan yang datang ke Jakarta. Bahkan, Pramono berencana menghadirkan dodol Betawi sebagai salah satu hidangan dalam berbagai acara resmi di Balai Kota.
“Banyak makanan Betawi yang sebenarnya sangat enak, tetapi belum dipasarkan secara maksimal. Jika kemasannya dibuat lebih menarik, tentu bisa menjadi oleh-oleh khas Jakarta,” katanya.
Dodol Betawi sendiri kerap disebut sebagai “kue gotong royong” karena proses pembuatannya biasanya dilakukan bersama-sama dalam jumlah besar. Tanpa bahan pengawet, dodol tradisional ini umumnya dapat bertahan hingga dua sampai tiga minggu apabila disimpan dengan baik.
Sementara itu, Bang Foke menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga dan mempromosikan budaya Betawi, khususnya di kawasan Setu Babakan.
Ia menilai kegiatan seperti ini tidak hanya menjaga tradisi kuliner, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat luas.
“Kami berterima kasih atas perhatian yang diberikan. Tradisi seperti ini penting untuk terus dilestarikan agar budaya Betawi tetap hidup dan dikenal generasi mendatang,” ujarnya.
Red Shaff)***


