Jakarta, LensaWarna.com — Festival Film Horor (FFH) kembali digelar dan memasuki edisi ke-2. Ajang bulanan ini tidak sekadar memberikan penghargaan Nini Suny Award, tetapi juga menjadi ruang diskusi dan refleksi bagi perkembangan film horor nasional.
Pada penyelenggaraan kali ini, FFH mengusung tema diskusi publik “Trend Film Horor 2026”. Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas latar belakang, di antaranya Direktur Film Kementerian Kebudayaan Syaifullah Agam, dosen psikologi Universitas Indonesia sekaligus aktris senior Nini L. Karim, mahasiswa pascasarjana IKJ Arya Pramasaputra, serta dua sutradara film horor Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas yang tengah menantikan penayangan karya terbarunya.

Dalam forum tersebut, para pembicara sepakat bahwa film horor Indonesia harus terus berevolusi dan tidak terjebak pada formula lama. Menurut mereka, sebuah film horor yang baik adalah karya yang meninggalkan kesan mendalam dan tetap diingat penonton beberapa hari setelah keluar dari bioskop.
Para narasumber juga menilai pentingnya tren baru dalam film horor agar genre ini tidak stagnan. Tanpa pembaruan, mereka khawatir perfilman nasional bisa kembali mengalami masa suram seperti sebelum kebangkitan film Indonesia pada awal 2000-an.

Syaifullah Agam memaparkan data bahwa pada periode 2021 hingga 2023, film horor dan komedi menjadi genre paling diminati penonton. Total penonton film nasional pada masa tersebut mencapai lebih dari 128 juta, dengan rata-rata setiap judul ditonton sekitar 450 ribu orang.
Namun, ia mengakui belakangan minat penonton film horor menunjukkan tren penurunan.
“Film horor pernah menjadi lokomotif perfilman nasional. Kalau tidak ada terobosan, bukan tidak mungkin genre ini akan ditinggalkan penonton, seperti yang pernah terjadi pada film-film dengan tema tertentu di masa lalu,” ujarnya.
Sementara itu, Nini L. Karim menekankan pentingnya pendekatan rasional dalam film horor, ia lebih menyukai istilah film mistik, yang menurutnya harus tetap berpijak pada logika dan dapat diterima secara kognitif, emosional, serta perilaku.
“Penonton rela membayar untuk merasakan takut, tapi mereka juga menuntut kualitas cerita yang masuk akal,” katanya.
Pada akhir acara, FFH mengumumkan hasil penjurian. Film Janur Ireng terpilih sebagai Film Terbaik bulan ini. Aktor Terpilih diraih Tora Sudiro melalui perannya di Janur Ireng, sementara Sutradara Terpilih diberikan kepada Kimo Stamboel untuk film yang sama.
Penghargaan Aktris Terpilih diraih Wavi Zihan lewat film Qorin 2, dan penghargaan DOP/Cinematographer Terpilih jatuh kepada Enggar Budiono untuk film Dusun Mayit.
Selain itu, FFH juga menganugerahkan penghargaan khusus kepada Epy Kusnandar atas dedikasi dan kontribusinya yang panjang dalam dunia perfilman Indonesia.
Red Dons)***


