Breaking News
23:43
Advertisement

Gen Z Tak Lagi Kebal, Hipertensi dan Diabetes Mulai Mengintai Anak Muda

IMG 20261105 WA0023
Bagikan
Lihat Tersimpan

Jakarta, LensaWarna.com— Anggapan bahwa hipertensi dan diabetes merupakan penyakit yang hanya menyerang orang berusia lanjut mulai terbantahkan. Pola hidup generasi muda saat ini justru membuat dua penyakit tersebut semakin perlu diwaspadai sejak usia produktif.

Kebiasaan begadang, terlalu lama duduk atau rebahan, minim aktivitas fisik, serta konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis menjadi bagian dari gaya hidup yang banyak dijalani anak muda, termasuk Generasi Z.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 10,7 persen pada kelompok usia 18-24 tahun dan 17,4 persen pada usia 25-34 tahun.

Namun, jumlah anak muda yang mengetahui dirinya mengalami hipertensi jauh lebih rendah. Hanya sekitar 0,4 persen kelompok usia 18-24 tahun dan 1,8 persen usia 25-34 tahun yang pernah memeriksakan diri serta mendapat diagnosis hipertensi dari dokter.

Kondisi serupa terlihat pada diabetes. SKI 2023 mencatat sekitar 11,7 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas memiliki kadar gula darah tinggi, sementara yang telah mendapatkan diagnosis dokter hanya sekitar 2,2 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat, termasuk kelompok usia muda, yang belum mengetahui kondisi kesehatannya.

Gaya Hidup Jadi Faktor Risiko

Rendahnya aktivitas fisik dan pola konsumsi yang kurang sehat menjadi perhatian tersendiri. SKI 2023 mencatat sekitar 50,4 persen remaja usia 15-19 tahun memiliki aktivitas fisik yang rendah.

Di sisi lain, sebanyak 47,5 persen penduduk Indonesia tercatat mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari.

Masalah berat badan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Data menunjukkan 16,2 persen remaja usia 13-15 tahun dan 12,1 persen kelompok usia 16-18 tahun mengalami overweight atau obesitas.

Kondisi tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas sentral, dari 31 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen pada 2023.

Pola makan tinggi gula, garam dan lemak, ditambah kurang bergerak, dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Kebiasaan tersebut mungkin tidak langsung menimbulkan keluhan, tetapi jika berlangsung terus-menerus dapat memberikan dampak terhadap kesehatan dalam jangka panjang.

Hipertensi juga kerap disebut sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Akibatnya, seseorang yang merasa sehat belum tentu memiliki tekanan darah yang normal.

Cek Kesehatan Penting Sejak Muda

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mulai berjalan pada 10 Februari 2025 turut menemukan kasus hipertensi yang sebelumnya belum terdeteksi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada 2026, sekitar 1 juta kasus hipertensi baru ditemukan dari 9,2 juta peserta CKG yang sebelumnya tidak terdeteksi mengalami hipertensi.

Program tersebut terbuka untuk berbagai kelompok usia dan telah dilaksanakan di lebih dari 10.000 fasilitas, termasuk puskesmas dan sekolah, serta menjangkau sekitar 73,8 juta penduduk.

Kemenkes juga mencatat sekitar 35,4 persen pasien hipertensi yang terdiagnosis melalui CKG 2025 kembali melakukan pemeriksaan pada 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 46,9 persen berhasil mengendalikan tekanan darahnya.

Untuk diabetes, sekitar 33,1 persen pasien kembali menjalani pemeriksaan dan 69,4 persen di antaranya tercatat mampu mengendalikan kadar gula darah.

Dampaknya Tak Hanya pada Individu

Hipertensi dan diabetes yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, mulai dari penyakit jantung, stroke hingga gangguan ginjal.

Dampaknya juga tidak berhenti pada individu, tetapi dapat berpengaruh terhadap keluarga, produktivitas, hingga pembiayaan kesehatan.

Karena itu, generasi muda perlu mulai mengubah pandangan bahwa pemeriksaan tekanan darah dan gula darah hanya diperlukan ketika sudah tua atau ketika muncul keluhan.

Langkah sederhana dapat dimulai dengan mengetahui kondisi tubuh melalui pemeriksaan rutin. Anak muda juga dapat mengurangi konsumsi minuman manis, membatasi makanan tinggi garam dan lemak, serta meningkatkan aktivitas fisik.

Aktivitas fisik setidaknya 150 menit dalam sepekan atau sekitar 30 menit sehari selama lima hari dapat menjadi salah satu kebiasaan yang diterapkan secara bertahap.

Bagi mereka yang telah didiagnosis hipertensi atau diabetes, kepatuhan terhadap pengobatan dan pemeriksaan berkala juga penting untuk menjaga kondisi tetap terkendali.

Pada akhirnya, usia muda bukan jaminan seseorang terbebas dari penyakit tidak menular. Mengenali kondisi kesehatan sejak dini dan membangun pola hidup sehat menjadi langkah penting agar generasi produktif tetap sehat dalam jangka panjang.

Penulis: Putri Nuril Mustafa)***

Penulis

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AdvertisementAdvertisement
AdvertisementAdvertisement