Depok, LensaWarna.com – Grup musik independen Brand New Hair Color siap meramaikan skena musik alternatif Indonesia melalui album perdana bertajuk Everybody Dies in the Movies yang dijadwalkan rilis pada 30 Oktober 2026 di berbagai platform streaming digital.
Mengusung warna musik slacker rock dengan sentuhan indie rock, album ini menghadirkan tujuh lagu yang terinspirasi dari pengalaman cinta, patah hati, hingga proses merelakan hubungan yang telah berakhir.

Brand New Hair Color dibentuk pada 20 Agustus 2026 oleh dua sahabat yang bertemu di bangku kuliah, yakni Desta “Daze” Azkiya sebagai vokalis sekaligus penulis lirik dan Iman Proton yang menangani instrumen serta produksi musik.
Meski hanya diperkuat dua personel, keduanya berupaya menghadirkan karakter musik yang utuh melalui perpaduan selera dan referensi musikal masing-masing.
Tuangkan Pengalaman Pribadi dalam Tujuh Lagu
Album Everybody Dies in the Movies berangkat dari pengalaman personal Daze dalam menjalani hubungan asmara.
Cerita mengenai komunikasi yang terhambat, kenangan masa lalu, dan perpisahan menjadi benang merah yang menghubungkan lagu-lagu di dalamnya.
Lagu pembuka berjudul “Beginning” menggambarkan keterbatasan komunikasi di antara dua orang yang menjalin hubungan. Nuansa cerita diperkuat oleh rekaman suara Sekar Nindya Palastri yang menjadi bagian dari lagu tersebut.
Perjalanan emosional berlanjut melalui “Little Miss Sunshine”, yang mengangkat kenyataan bahwa sesuatu yang dicintai pada akhirnya bisa saja harus dilepaskan, meskipun prosesnya terasa pahit.
Sementara itu, “Pet Names” menjadi penutup album dengan refleksi tentang kehilangan dan kenangan yang tetap membekas.
Lagu ini juga memuat dialog dari film His Girl Friday (1940) pada bagian pembukanya, yang memperkuat gambaran hubungan masa lalu dan perasaan yang tidak sepenuhnya hilang.
Proses Kreatif Spontan Tanpa Demo
Salah satu hal menarik dari penggarapan album ini adalah proses produksinya yang berlangsung relatif singkat. Berbekal gagasan musik dan pengalaman pribadi, Daze mendatangi rumah Iman untuk mulai mengerjakan materi album.
Dalam waktu sekitar satu hingga dua hari, ketujuh lagu dikembangkan secara spontan tanpa melalui tahap pembuatan demo terlebih dahulu.
Penulisan lirik, pengerjaan instrumen, hingga penyusunan aransemen dilakukan langsung selama proses produksi.
Pada awalnya, mereka ingin mengeksplorasi karakter emo generasi keempat dengan pendekatan lo-fi. Namun, arah musik kemudian berkembang menuju slacker rock, dengan sejumlah referensi seperti Car Seat Headrest, Neutral Milk Hotel, hingga Black Country, New Road.
Perpaduan berbagai pengaruh tersebut membentuk identitas musikal Brand New Hair Color dalam album debut mereka.
Berharap Menambah Warna Musik Alternatif Indonesia
Melalui Everybody Dies in the Movies, Daze dan Iman berharap dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan musik slacker rock dan indie rock di Indonesia.
Album ini sekaligus menjadi perkenalan awal Brand New Hair Color kepada pendengar melalui karya yang menggabungkan pengalaman personal, eksplorasi musikal, dan proses kreatif yang spontan.
Red Dons)***






Leave a Reply