Jakarta, LensaWarna.com– Kenduri Urban Humanity Refleksi Kehidupan Pemulung – Seni untuk Kemanusiaan, yang diselenggarakan Sanggar Humaniora Kota Bekasi, menghadirkan Fashion Show Daur Ulang Limbah, yang Unik dan Kreatif, berlangsung di Sanggar Humaniora, Kranggan Permai Jatisampurna Kota Bekasi (25/02).

Kegiatan ini terinspirasi dari menumpuknya sampah-sampah dan rongsokan yang secara rutin dikumpulkan para pemulung binaan Rumah Singgah Bunda Lenny Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan. Setidaknya ada sekitar 229 pemulung yang menjadi warga binaan lembaga nirlaba yang sudah 29 tahun beroperasi ini.

Lomba Fashion Show Busana Daur Ulang ini untuk pertama kalinya diselenggarakan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan di kawasan Jatisampurna Kota Bekasi. Meski baru yang pertama namun animo pesertanya justeru datang dari berbagai kota, seperti Yogyakarta, Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi.

Lomba Fashion Show Busana Daur Ulang ini menciptakan kostum, menampilkan busana unik dan kreatif yang dikreasikan dari pengelolaan limbah, sampah produktif.

Bagi Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, menegaskan akan pentingnya menyadari kerusakan lingkungan yang diakibatkan industri.

Selain perlunya waspada terhadap bahaya sampah, kemudian berpartisipasi mengedukasi anak-anak Indonesia melalui empat pilar budaya; Cinta Bersih, Cinta Sehat, Cinta Tertib (disiplin), dan Cinta Keindahan.

“Melalui Lomba Fashion Show Busana Daur Ulang ini kita dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan. Ini bisa menjadi pelajaran yang baik untuk generasi mendatang tentang bagaimana kita dapat berkontribusi melindungi planet kita,” ujar Eddie Karsito.

Disisi lain, pemilik Sanggar Daur Ulang Wiwiek Poenk Art Flashion, yang memboyong dua modelnya, Nabila Kezia Ratna Dewanti (Pelajar SMK Negeri 1 Kasihan/SMKI Yogyakarta) dan Ruth Chatarina Della Baylon (Pelajar Marsudirini 2 Yogyakarta), turut memeriahkan Lomba Fashion Show Busana Daur Ulang ini.

“Busana daur ulang bukan hanya solusi bagi masalah limbah, tetapi juga merupakan ladang baru untuk inovasi kreatif,” ujar Wiwiek Poengki, perancang busana daur ulang dari Kota Yogyakarta.

Jadi, walaupun acaranya sederhana, dan diadakan di sanggar di jalanan, di tengah pemukiman penduduk justru sangat menarik sekali karena lain dari yang lain, tukas Wiwiek Poengki, perancang busana daur ulang yang sudah mengikuti berbagai fashion show tingkat Nasional ini.

Apa yang dilakukan Sanggar Humaniora, menurut Wiwiek, sangat tepat di tengah kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Bagaimana cara mengajak masyarakat supaya ikut menyelamatkan bumi dengan mengurangi limbah.

“Sadar lingkungan yang efektif mensosialisasikanya melalui seni pertunjukan. Masyarakat jadi terinspirasi untuk membuat limbah menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati keindahanya,” tutur Wiwiek.

Lomba Fashion Show Busana Daur Ulang ini menjadi satu rangkaian kegiatan Kenduri Urban Humanity Refleksi Kehidupan Pemulung – Seni untuk Kemanusiaan yang digelar sejak (22/02) sampai dengan (29/02/2024) mendatang.

Selanjutnya, Kenduri Urban Humanity Refleksi Kehidupan Pemulung – Seni untuk Kemanusiaan juga menggelar Lomba Mewarnai dan Melukis, Pameran Lukisan, Seni Instalasi, dan Seni Pertunjukan Musik serta Lenong Remaja.

Bahkan Kenduri “Urban Humanity – Refleksi Kehidupan Pemulung” untuk pertama kalinya menghelat gelaran seni yang melibatkan para awam, yakni para pemulung dalam proses kreatif dengan pendekatan seni instalasi.

Seperti dengan mengkontruksi sejumlah benda milik pemulung seperti gerobak, karung, gancu, dan alat mencari rongsok (sampah) lainnya. Benda-benda ini dikonstruksi menjadi karya seni instalasi yang memiliki kesadaran makna.

Kenduri “Urban Humanity – Refleksi Kehidupan Pemulung” yang diselenggarakan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, didukung sepenuhnya oleh Unit Usaha Syariah PT. Pegadaian Cabang Pegadaian Syariah Islamic Centre Bekasi.

Perlu diketahui pula, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Dan melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, telah banyak pula melakukan aksi sosial, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal. Disamping membuka warung kopi dan mie instan gratis setiap hari melayani para pemulung, musafir dan orang-orang lapar.

Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan membina ratusan pemulung, diantaranya para janda lanjut usia, dan ada yang usianya 97 tahun. Menyantuni kaum dhua’fa, fakir miskin, anak yatim dan dhu’afa non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Kabupaten Bandung.

)***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *